Apa yang biasa Anda buka paling pertama di pagi hari? Koran? TV? Radio…. atau Smartphone Anda?

Hati – hati soal smartphone, karena memang sifatnya ini seperti Pedang bermata dua, kalau Kita tidak pandai – pandai menggunakannya sebagai alat menuju produktifitas.

Dalam sebuah acara talkshow, Simon Sinek menjelaskan, bahwa ketika menggunakan social media atau smartphone, otak kita akan memproduksi dopamine.

Itulah sebabnya ketika kita menerima pesan, rasanya menyenangkan dan asyik. Itu pula sebabnya ketika sedang
kesepian, biasanya kita akan mengirim pesan secara broadcast kepada 10 orang teman dengan menggunakan kata-kata yang sama.

Seperti, men-share sebuah video lucu sampai share berita yang mencengangkan misalnya. Dan, kita akan merasa senang dan asyik, kalau pesan tersebut mendapat respons!

Itu pula sebabnya, kenapa kita suka menghitung kalau di Instagram, berapa ‘sih’ orang yang menyukai (nge-like) dan kadang melihatnya kembali sampai 10 kali.

Dan ketika Instagram kita mulai kurang direspons, maka kita pun akan merasa seperti ada yang salah, atau menganggap mereka sudah mulai tidak menyukai kita lagi. Sebuah perasaan yang menyerupai anak kecil—yang menjadi trauma—karena merasa tidak ada yang mau berteman lagi. Lalu, apa penyebabnya?

Penyebabnya adalah reaksi kimia bernama Dophamine. Reaksi kimia ini memberikan sensasi yang menyenangkan, terasa enak, dan mengasyikan. Dophamine ini adalah reaksi kimia yang sama pula ketika Kita (mohon maaf) merokok, minum minuman beralkohol, dan berjudi. Dengan kata lain, hal itu sungguh-sungguh membuat kita jadi kecanduan.

Lalu bagaimana dampaknya terhadap anak – anak muda?

Untuk sisi yang kurang baik, lagi – lagi smartphone dan media sosial memberikan sensasi mengasyikan hingga kecanduan. Kita bisa melihat disemua tempat, baik di rumah di kamarnya di cafe hingga dikendaraan umum, smartphone tetap ditatap sebegitu fokusnya—yang salah satunya untuk mencari hiburan.

Akibatnya, anak-anak akan lebih susah dibentuk. Dan ketika mereka mulai bertumbuh, akan banyak anak-anak yang tidak mengetaui cara membentuk hubungan yang dalam.

Dan faktanya, hal itu adalah sesuai pengakuan mereka sendiri. Mereka mengaku bahwa persahabatan mereka sangat dangkal.

Mereka mengaku bahwa mereka tidak bisa berharap pada teman-temannya. Mereka senang dengan teman mereka, tetapi mereka yakin bahwa teman-temannya akan membatalkan semua hal dengannya, ketika ada sesuatu yang lebih baik, yang lebih menarik minat.

Mereka bahkan mayoritas tidak mengetahui makna “hubungan yang dalam” karena tidak pernah dilatih untuk itu!

Dan yang lebih buruk lagi, mereka tidak mempunyai mekanisme untuk beradaptasi dengan tekanan, dengan pressure.

Maka ketika mereka mendapatkan tekanan yang signifikan, mereka tidak akan pergi ke seseorang teman, mereka hanya akan pergi ke device dan media social, di mana hal-hal itu hanya akan memberi kelegaan yang bersifat sementara.

Produk akhirnya? Curhatan hingga umpatan di status media sosial. Atau yang kini mengkhawatirkan, yaitu mencari perhatian dengan mengumbar apa saja yang dimilikinya.

Itulah kenapa berdasarkan riset, orang yang sering menggunakan media sosial begitu intens dan ketergantungan akan penilaian dari followersnya―sangat rentan terhadap depresi―dibandingkan dengan orang yang jarang menggunakan media sosial.

Intinya adalah, hal-hal ini harus seimbang, tidak ada efek baik dari segala hal yang bersifat berlebihan, meskipun itu obat dari dokter sekalipun!

Jadi, apa pointnya? Kini, kita semua bertanggung jawab untuk memperbaiki masalah ini, sekaligus untuk menolong generasi yang luar biasa, idealis, dan fantastis ini.

Untuk membangun kepercayaan diri mereka, agar mulai belajar sabar, belajar keterampilan untuk bersosialisasi, dan untuk menemukan kesimbangan antara hidup dan teknologi. Karena terus terang saja, itulah hal-hal benar yang harus mereka lakukan.

Bagikan
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •