Hukum Kepercayaan

Hukum Kepercayaan

Akademi UMKM – Hukum Kepercayaan menyebutkan, apa pun yang kita percaya―dengan segenap perasaan—akan menjelma menjadi nyata. Semakin kuat kita percaya bahwa sesuatu adalah benar, maka semakin besar kemungkinan hal itu memang benar bagi kita.

Jika benar-benar mempercayai sesuatu, kita tidak bisa membayangkan hal tersebut dalam keadaan sebaliknya. Kepercayaan yang kita punyai memberi kita sebentuk ‘penglihatan melalui terowongan’. Kepercayaan tersebut akan men-edit, yang menyebabkan kita mengabaikan informasi yang tidak konsisten dengan apa yang kita percayai.

William James, psikolog besar dari Harvard mengatakan, “Kepercayaan menciptakan fakta nyata.” Maka tak heran kalau muncul ungkapan, “Jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya.” Dengan kata lain, belum tentu kita memercayai apa-apa yang kita lihat. Tapi, kita pasti melihat apa-apa yang kita percayai. 

Sebagai contoh, jika kita sangat percaya bahwa kita tercipta untuk memperoleh kesuksesan besar dalam kehidupan ini, maka apa pun yang terjadi, kita akan terus bergerak maju menuju tujuan kita―takan akan ada apa pun yang akan mampu menghentikan kita.

Dan sebaliknya, jika kita percaya bahwa kesuksesan adalah perkara keberuntungan atau kebetulan, maka dengan mudah kita akan menjadi lemah dan kecewa, pada saat segala sesuatu tidak berjalan sesuai dengan harapan dan keinginan kita. Sehingga singkatnya, KEPERCAYAAN KITA lah, yang menetapkan KESUKSESAN maupun KEGAGALAN kita.

Jadi, kalau Anda percaya hari ini akan menjadi hari yang buruk, menurut Anda, apa yang akan terjadi kemudian?

Teten Masduki : Program PEN KUMKM Dilanjutkan

Teten Masduki : Program PEN KUMKM Dilanjutkan

Jakarta, AkademiUMKM – Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menegaskan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) khususnya pembiayaan bagi koperasi usaha mikro, kecil dan menengah (KUMKM) tahun ini masih akan dilanjutkan oleh pemerintah. 

Penegasan itu disampaikan Teten Masduki saat menjadi keynote speaker dalam acara Graduation Banking Editors Masterclass dengan tema “Peran Perbankan dalam adaptasi UMKM di Masa Pandemi” yang digelar secara virtual, Rabu (17/3/2021). 

Teten mengatakan program PEN KUMKM terdiri dari dua klaster. Pertama, bagi usaha mikro yang unbankable, Banpres Produktif Usaha Mikro (BPUM). 

“Insya Allah segera akan digulirkan oleh Presiden,” kata MenkopUKM Teten Masduki. 

Kedua, PEN bagi kelompok usaha yang sudah bankable dan telah mendapatkan kredit usaha rakyat (KUR) berupa fasilitas subsidi bunga KUR dan pembiayaan modal kerja koperasi melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (LPDB-KUMKM).

“Pemerintah terus mematangkan alternatif pembiayaan untuk UMKM dan Koperasi yang murah, mudah, dan cepat agar UMKM cepat naik kelas,” papar Teten. 

Ia mengakui pandemi memberikan dampak sangat besar bagi UMKM. Menurut data Siap Bersama UKM, dampak pandemi terhadap UMKM yaitu Kesulitan Pemasaran 22,9%,Distribusi Terhambat 20,01%, Kesulitan Permodalan 19,39%, dan Bahan Baku 18,87%. 

“Sebesar 98% UMKM mengalami penurunan penjualan serta 50,5% UMKM mengurangi karyawannya,” ujar Teten mengutip data SMRC tahun 2020.

Meskipun demikian, menurut Teten, kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia sedikit lebih baik dibandingkan banyak negara di ASEAN maupun negara-negara anggota G20, seperti Amerika Serikat (-3,5%), Jerman (-5,0%), Rusia (-3,1%), Singapura (-5,8%), dan Filipina (-9,5%).

Kondisi ekonomi RI berangsur pulih tersebut ditandai angka pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) triwulan IV-2020 sebesar minus 2,19% (yoy) atau jauh lebih baik dari triwulan II (minus 5,32%), maupun triwulan III (minus 3,49%). 

“Melihat perkembangan ini, saya ingin mengajak kita semua untuk lebih optimis,” imbuh Teten Masduki. 

Untuk mengurangi resiko usaha dari UMKM agar lebih feasible untuk mendapatkan akses pembiayaan, pihaknya menyiapkan 4 transformasi besar. Dengan begitu UMKM diharapkan terdata dengan baik, berusaha dalam skala ekonomi dan efisien, serta proses pembinaan menjadi lebih fokus dan terarah. 

Teten menjelaskan 4 transformasi besar yang dimaksud yaitu transformasi dari informal ke formal, transformasi ke digital dan pemanfaatan teknologi, transformasi ke dalam rantai nilai (value chain), dan modernisasi koperasi.

(Sumber Humas Kementerian Koperasi dan UKM)