Kepercayaan, Ikatan Antara Pemimpin dan Tim

Kepercayaan, Ikatan Antara Pemimpin dan Tim

Ada tiga pertanyaan, yang perlu menjadi refleksi bagi para CEO, agar dapat memperoleh KEPERCAYAAN atau TRUST dari timnya. Yang pertama, “Apakah CEO pantas Saya ikuti?”

Ruang pertama dari kepercayaan adalah tentang personal seorang CEO. Ikatan hubungan antara tim, adalah manusia dengan manusia. Terkadang, tak jarang seorang CEO memodelkan hubungan kerja menjadi ’hubungan antara manusia dengan organisasi’.

Padahal, bagaimana pun, manusia berhubungan dengan sesosok CEO yang juga wujudnya adalah manusia. Maka, secara alamiah, seorang manusia pasti membutuhkan alasan, untuk apa Saya mengikuti “dia”.

Disinilah integritas dan kualitas diri seorang CEO ditantang. Apakah kepemimpinan yang dibangun oleh CEO adalah semata kepemimpinan karena jabatan atau kepemimpinan yang memang dibangun dengan pembuktian kerja dan karya?

Di titik ini, penting bagi setiap pemimpin organisasi bisnis seperti Anda, untuk terus merenungi diri : sudah pantaskah saya diikuti? Apakah Saya pantas dipercaya oleh tim didalam organisasi Saya? Hari ini, sejauh mana tim percaya kepada diri Saya?

Poin yang kedua lebih ke: “Apakah CEO saya benar-benar ingin membangun organisasi lebih baik?” Poin ini adalah soal intensi seorang pemimpin bisnis.

Dalam sebuah organisasi, CEO adalah posisi puncak dari manajemen. Pada perusahaan kecil menengah, biasanya posisi CEO diduduki oleh seorang owner dan pada kelas menengah besar, biasanya owner menyerahkan kerja proses bisnis kepada seorang CEO.

Maka baik tidaknya sebuah performa organisasi, mau tidak mau mengarah kepada hidung sang CEO. Kondisi ini terkadang menyebabkan seorang CEO terjebak pada hasrat pribadi.

Alih-alih berfikir tentang membesarkan organisasi, seorang CEO terkadang terjebak untuk membesarkan dirinya sendiri. Lalu bagaimana mungkin tim berkenan bergerak untuk membangun prestasi individu seseorang?

Padahal kita mesti meyakini, bahwa energi hati itu menjalar dan terasa. Ketika seorang CEO terjebak dalam misi-misi pribadi, maka seluruh tim dapat merasakan hal itu dan kemudian kepercayaan akan terkoyak.

Akibatnya performa menurun, energi melemah dan angka pada scoreboard pun merah. Maka penting bagi CEO untuk mengevaluasi diri dan hatinya.

Untuk apa Saya melakukan ini semua? Apakah untuk diri Saya semata? Ataukah untuk organisasi? Mana hasrat yang lebih ber-api didalam diri Saya, melihat organisasi besar atau melihat diri ini besar? Poin yang ketiga adalah, “Apakah CEO mampu menumbuhkan diri saya?”

Hal ketiga ini adalah tentang bagaimana seorang CEO mampu menumbuhkan tim nya. Pertumbuhan adalah fitrah dari setiap orang.

Setiap orang tentu mendambakan kehidupan yang bertumbuh, baik dari segi keterampilan,mental dan bahkan kesejahteraan hidup. Dan dorongan ini tentu juga tersemai didalam hati setiap tim.

Setiap anggota didalam sebuah organisasi tentu mengejar pertumbuhan. Maka, setiap anggota tim pasti bertanya kepada dirinya, apakah organisasi bisnis tempat Saya bekerja hari ini mampu menumbuhkan Saya?

Apakah CEO yang ada benar-benar dapat menumbuhkan Saya? Apakah perusahaan ini dapat Saya harapkan? Ketika harapan pertumbuhan ini tidak terjawab, maka seorang anggota tim akan kehilangan kepercayaan.

Dan disanalah retak-retak kinerja mulai hadir. Organisasi menjadi lemah, karena diisi oleh orang-orang yang hanya sekedar bertahan hidup.

Berbeda apabila pertanyaan akan harapan tersebut dapat dijawab dengan pasti. Organisasi akan diisi oleh manusia-manusia yang penuh energi. Mengapa? Karena ada harapan dan kepercayaan. Kedua hal itu menjadi energi gerak dalam organisasi.

Jika Teman Kita Buka Usaha

Jika Teman Kita Buka Usaha

Seorang ustadz bercerita, tahun 2008, dia mengikuti seminar bisnisnya Tung Desem Waringin di sebuah hotel, di Jakarta. Pesertanya tidak kurang dari 7000 orang.

Ustadz ini hadir tidak semata-mata karena ilmunya, tetapi karena rasa penasaran, apa betul orang cina ukhuwahnya lebih kuat dari umat Islam.

Ternyata hampir 75% peserta seminar Tung adalah orang-orang cina. tua, muda, dan bahkan anak-anaknya diikutsertakan.

Selesai acara, semua produk-produk yang ditawarkan laku keras, mulai dari buku, baju, kaos, cenderamata, dll. 10.000 buku ludes terjual.

Sepulang dari training, ustadz tersebut berkesimpulan bahwa mereka sudah khatam QS. 3:103, QS. 49:10 dan 13, QS. 5:2, QS. 8:72.

Mereka lebih memahami ayat-ayat tersebut daripada kita. Mereka telah berhasil membangun pasar Anshar. Mereka lebih memahami makna ukhuwah dalam tatanan sosial.

Ana sendiri mengamati, ketika ada teman ana orang cina membuka restoran, tanpa perlu diundang, cukup diberi tahu, hampir seluruh anggota keluarga dan teman-teman akan datang di pembukaan resto dan seterusnya.

Sehingga restoran nampak ramai terus dan mengundang kepenasaran orang lain. Tidak ada diantara mereka yang meminta gratisan. Semuanya bayar.

Ini berbeda dengan kita. Ketika ada saudara/teman baru buka usaha, maka dengan dalih kan masih promosi, minta sample, minta contoh, minta gratisan, kalau tidak ya minta diskon.

Janganlah meminta gratisan, kecuali jika saudara/teman kita pengusaha ini tanpa kita meminta, beliau memberikannya sebagai hadiah buat kita.

Jika baru mulai usaha saja sudah terbebani permintaan gratisan, maka usaha saudara/teman kita ini, tak lama kemudian bangkrut karena tingginya biaya yang harus dikeluarkan untuk memenuhi keinginan saudara dan teman-temannya sendiri.

Maka tidak aneh kan kalau berkembang pemikiran, kalau mau bisnis jangan sama saudara atau teman. Mungkin ini pula yangmenjadi penyebab UKM-UKM kita sulit berkembang.

Jika ada saudara/teman buka usaha, kalau kita tidak bisa membantunya dengan memberi modal, minimal jangan bebani mereka dengan meminta gratisan atau diskon.

Kalau bisa, saat membeli, lebihkan kembaliannya untuk menambah keuntungan/modal mereka.

Kalau ada saudara kita jualan suatu barang yang kita butuhkan, belilah dari saudara kita, biarpun sedikit lebih mahal dari yang ditawarkan para pengusaha besar.

Bisnis itu tidak sekedar uang, tetapi juga tentang persaudaraan.

Insyaa Allah kita bisa…